=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000000001825 =990 ##$$a 1002/JBPUBEK/P/2021 =005 20220805084929 =990 ##$$a 1004/JBPUBEK/P/2021 =035 ##$$a 0010-0921000300 =990 ##$$a 1000/JBPUBEK/P/2021 =007 ta =990 ##$$a 1001/JBPUBEK/P/2021 =008 220805################g##########0#ind## =990 ##$$a 998/JBPUBEK/P/2021 =020 ##$$a 978-602-481-353-6 =990 ##$$a 999/JBPUBEK/P/2021 =082 ##$$a 899.221 308 3 =990 ##$$a 1003/JBPUBEK/P/2021 =084 ##$$a 899.221 308 3 PRA d =990 ##$$a 1005/JBPUBEK/P/2021 =100 1#$$a Pratiwi Juliani (penulis) =245 1#$$a Debu dalam Angin /$c Pratiwi Juliani; penyunting, Endah Sulwesi =250 ##$$a Cetakan Pertama =260 ##$$a Jakarta: :$b KPG,$c 2020 =300 ##$$a v, 131 hlm. : $b ilus. ; $c 13,5 x 20 cm =650 #4$$a Novel` =700 1#$$a Endah Sulwesi (penyunting) =520 ##$$a Siapa yang bisa mencuri sesuatu dari seorang manusia yang teramat miskin. Siapa yang bisa membunuh seseorang yang sesungguhnya tidak pernah hidup? Dengan penglihatannya yang mengabur dalam sekarat, Salvador tua mengais sisa-sisa kenangannya bersama Tirbiani kecil; Salvador berutang sebuah pengakuan kepada anaknya. Pada saat bersamaan, para remaja buruh yang merawat Salvador justru harus membuka kembali ingatan mereka tentang pedihnya kehilangan keluarga ketika berusaha mencari tahu keberadaan Tirbiani. Buku ini berkisah tentang kehidupan para buruh; kelembutan hati orang-orang terpinggirkan dan pencerahan seorang lelaki tua yang belajar dari kealpaannya sendiri, juga dari keagungan isyarat alam yang tenang dan melambung. “Debu dalam Angin adalah gubahan asli seorang penulis Indonesia, sehingga menarik untuk menghayati pengalaman Indonesia generasi baru. Apakah pembaca sedang berada di Indonesia? Dimensi Indonesia macam apakah yang terungkap dalam novel ini? Latar imajiner novel bergenre realisme ini tetap membawakan tema klasik; pergulatan manusia, dalam kondisi apa pun, agar hidupnya bermakna. Cara berceritanya yang tidak mencari efek sensasi, peka terhadap kerincian, menggambarkan kehidupan pinggiran secara elegan. Mengena bagi yang selektif memilih bacaan.” –Seno Gumira Ajidarma