Detail Katalog
ID: 9541
Pemberontakan Petani Banten 1888 / Sartono Kartodirdjo; penerjemah, Hasan Basari
Edisi: Cetakan PertamaPengarang
Kartodirdjo Sartono (penulis) ; Hasan Basari (penerjemah)
Penerbit
Pustaka Jaya,
Tempat Terbit
Jakarta: :
Tahun Terbit
1984
Bahasa
ind
Subjek
Gerakan Sosial
Detail Teknis
Deskripsi Fisik
xi, 509 hlm. ; 21 cm.
Nomor Panggil
959.802 2 KAR p
Control Number
INLIS000000000009464
BIB ID
0010-1022000230
Catatan
Pemberontakan petani Banten 1888 adalah studi kasus gerakan sosial di Indonesia dilakukan oleh Sartono Kartodidjo, sejarawan Indonesia. Studi ini membahas mengenai pemberontakan para petani di Banten yang melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Kolonial Belanda. Dalam perlawanan ini, petani Banten dipimpin oleh para Ulama dan para Tubagus, bangsawan di Banten. Sebelum terjadi pemberontakan pada 1888, sebelumnya juga telah terjadi pemberontakan-pemberontakan sipil. Sartono menyatakan bahwa pemberontakan-pemberontakan tersebut memliki kesinambangungan satu dengan yang lain.
Dalam buku tersebut diceritakan bahwa pemberontakan disebabkan oleh kemiskinan di daerah ini. Selain karena sebagian besar daerahnya gersang, penerapan pajak yang diterapkan oleh pemerintah Belanda semakin menambah beban para petani.
Di sisi lain, kemiskinan itu disebabkan karena letusan gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian wilayah Banten. Gunung Krakatau yang terletak di antara Jawa dan Sumatra (selat Sunda) tidak hanya memuntahkan lahar tapi juga mengakibatkan gelombang tsunami. Tiga tahun kemudian terjadilah pemberontakan tersebut di tengah kemiskinan akut yang dialami orang Banten.
Meskipun metodologi utama yang digunakan Sartono adalah metodologi sejarah, ia juga memakai metodologi ilmu-ilmu sosial lain; politik, sosiologi, dan antropologi. Sehingga studi kasus ini komprehensif. Studi kasus ini ditulis dengan detail berdasarkan catatan persidangan para pelakunya serta arsip pemerintah Hindia Belanda.
Dalam buku tersebut diceritakan bahwa pemberontakan disebabkan oleh kemiskinan di daerah ini. Selain karena sebagian besar daerahnya gersang, penerapan pajak yang diterapkan oleh pemerintah Belanda semakin menambah beban para petani.
Di sisi lain, kemiskinan itu disebabkan karena letusan gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian wilayah Banten. Gunung Krakatau yang terletak di antara Jawa dan Sumatra (selat Sunda) tidak hanya memuntahkan lahar tapi juga mengakibatkan gelombang tsunami. Tiga tahun kemudian terjadilah pemberontakan tersebut di tengah kemiskinan akut yang dialami orang Banten.
Meskipun metodologi utama yang digunakan Sartono adalah metodologi sejarah, ia juga memakai metodologi ilmu-ilmu sosial lain; politik, sosiologi, dan antropologi. Sehingga studi kasus ini komprehensif. Studi kasus ini ditulis dengan detail berdasarkan catatan persidangan para pelakunya serta arsip pemerintah Hindia Belanda.
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
00000025880 |
959.802 2 KAR p |
Dapat dipinjam | Ruang Baca Umum ( PEMDA ) | Tersedia |
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Pencarian Terkait
Export