Detail Katalog
ID: 2538
Kekerasan simbolik di sekolah : sebuah ide sosiologi pendidikan Pierre Bourdieu / Nanang Martono
Edisi: cetakan pertamaPengarang
Nanang Martono
Penerbit
Rajawali Press,
Tempat Terbit
Jakarta :
Tahun Terbit
2012
Bahasa
ind
Subjek
Sosiologi pendidikan
Detail Teknis
Deskripsi Fisik
xxviii, 240 halaman : ilustrasi ; 24 cm x 15,5 cm
ISBN
978-979-769-472-2
Nomor Panggil
370.19 NAN k
Control Number
INLIS000000000002536
BIB ID
0010-0921001011
Catatan
Kekerasan merupakan suatu istilah yang tidak asing kita dengar di telinga kita, dan terkadang ketika mendengar istilah tersebut, sebagian besar diantara kita akan mengarahkannya pada sebuah peristiwa yang mengerikan, menakutkan, menyakitkan, atau bahkan mematikan. Kekerasan juga dinilai sebagai sebuah tindakan yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia), suatu konsep yang sedang menjadi fokus perhatian kita di bebagai forum diskusi. Kekerasan dalam dunia pendidikan juga dapat terjadi karena motif menunjukkan rasa solidaritas, proses pencarian identitas atau jati diri, serta kemungkinan adanya gangguan psikologis dalam diri siswa maupun guru. Misalnya tawuran antar pelajar dapat dilatarbelakngi karena siswa merasa menjadi satu golongan yang “membela teman” atau siswa merasa menjadi satu golongan yang “membela sekolahnya”. Beberapa kasus tawuran antar pelajar bahkan mengakibatkan tewasnya beberapa pelajar dan bahkan orang lai yang tidak terlibat pun dapat menjadi sasaran tawuran. Di Indonesia sendiri kasus tawuran antar pelajar sudah terjadi puluhan bahkan ratusan kali. Ulasan pada pada bagian diatas merupakan sebuah uraian mengenai fenomena kekerasan fisik. Kekerasan fisik dan kekerasan psikologis hanyalah bentuk kekerasan yang wujudnya “mudah dikenali” dan dampaknya juga mudah untuk diamati. Namun banyak pihak yang tidak menyadari bahwa adanya bentuk kekerasan lain yang hampir selalu terjadi di sekolah setiap hari. Bentuk kekerasan tersebut adalah “kekerasan simbolik”. Bentuk kekerasan ini hampir tidak pernah menjadi perhatian berbagai pihak, padahal jika diamati, bentuk kekerasan inilah yang memberikan dampak yang cukup besar, terutama dampak bagi masyarakat secara makro. Konsep ini dikemukakan oleh Bordieu, seorang sosiolog dari Perancis. Bourdieu menggunakan konsep ini untuk menjelaskan mekanisme yang digunakan kelompok elit atau kelompok kelas atas yang mendominasi struktur sosial masyarakat untuk “memaksakan” ideologi, budaya, kebiasaan, atau gaya hidupnya kepada kelompok kelas bawah yang didominasinya. Rangkaian budaya ini oleh Bourdieu disebut juga sebagai habitus. Akibatnya masyarakat kelas bawah, dipaksa untuk menerima, menjalani, mempraktikkan, dan mengakui bahwa habitus kelas atas merupakan habitus yang pantas bagi mereka (kelas bawah), sedangkan habitus kelas bawah merupakan habitus yang sudah selayaknya “dibuang jauh-jauh”. Kekerasan simbolik sebenarnya jauh lebih kuat daripada kekerasan fisik karena kekerasan simbolik melekat dalam setiap bentuk tindakan, struktur pengetahuan, struktur kesadaran individual, serta memaksakan kekuasaan pada tatanan sosial. Banyak mekanisme atau cara yang digunakan kelompok kelas atas untuk memaksakan habitusnya, salah satunya melalui lembaga pendidikan. Mekanisme sosialisasi habitus kelompok atas ini pun dapat dijumpai dalam berbagai bentuk. Kita dapat melihat bagaimana anak-anak di sekolah diwajibkan memakai sepatu, seragam, serta berbagai atribut atau cara berpakaian kelompok atas yang juga harus dilakukan kelompok kelas bawah. Dengan kata lain, siswa dari kelas bawah dipaksa untuk berbusana “layaknya” kelas atas, mereka dipaksa menerima habitus kelas atas.
Status
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Informasi Eksemplar & Metadata
| Nomor Barcode | Nomor Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
00000005884 |
370.19 NAN k |
Repository - PUSLING | Tersedia | |
00000005885 |
370.19 NAN k |
Repository - PUSLING | Tersedia | |
00000006871 |
370.19 NAN k |
Repository - PUSLING | Tersedia |
Format MARC21 - Total 18 field
| Tag | Ind1 | Ind2 | Nilai | Urutan |
|---|---|---|---|---|
| 001 | _ |
_ |
INLIS000000000002536 | 1 |
| 005 | _ |
_ |
20210930091047 | 2 |
| 035 | # |
# |
$a 0010-0921001011 | 3 |
| 007 | _ |
_ |
ta | 4 |
| 008 | _ |
_ |
210930################g##########1#ind## | 5 |
| 020 | # |
# |
$a 978-979-769-472-2 | 6 |
| 082 | # |
# |
$a 370.19 | 7 |
| 084 | # |
# |
$a 370.19 NAN k | 8 |
| 100 | _ |
# |
$a Nanang Martono | 9 |
| 245 | 1 |
# |
$a Kekerasan simbolik di sekolah : $b sebuah ide sosiologi pendidikan Pierre Bourdieu /$c Nanang Martono | 10 |
| 250 | # |
# |
$a cetakan pertama | 11 |
| 260 | # |
# |
$a Jakarta :$b Rajawali Press,$c 2012 | 12 |
| 300 | # |
# |
$a xxviii, 240 halaman : $b ilustrasi ; $c 24 cm x 15,5 cm | 13 |
| 650 | # |
4 |
$a Sosiologi pendidikan | 14 |
| 520 | # |
# |
$a Kekerasan merupakan suatu istilah yang tidak asing kita dengar di telinga kita, dan terkadang ketika mendengar istilah tersebut, sebagian besar diantara kita akan mengarahkannya pada sebuah peristiwa yang mengerikan, menakutkan, menyakitkan, atau bahkan mematikan. Kekerasan juga dinilai sebagai sebuah tindakan yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia), suatu konsep yang sedang menjadi fokus perhatian kita di bebagai forum diskusi. Kekerasan dalam dunia pendidikan juga dapat terjadi karena motif menunjukkan rasa solidaritas, proses pencarian identitas atau jati diri, serta kemungkinan adanya gangguan psikologis dalam diri siswa maupun guru. Misalnya tawuran antar pelajar dapat dilatarbelakngi karena siswa merasa menjadi satu golongan yang “membela teman” atau siswa merasa menjadi satu golongan yang “membela sekolahnya”. Beberapa kasus tawuran antar pelajar bahkan mengakibatkan tewasnya beberapa pelajar dan bahkan orang lai yang tidak terlibat pun dapat menjadi sasaran tawuran. Di Indonesia sendiri kasus tawuran antar pelajar sudah terjadi puluhan bahkan ratusan kali. Ulasan pada pada bagian diatas merupakan sebuah uraian mengenai fenomena kekerasan fisik. Kekerasan fisik dan kekerasan psikologis hanyalah bentuk kekerasan yang wujudnya “mudah dikenali” dan dampaknya juga mudah untuk diamati. Namun banyak pihak yang tidak menyadari bahwa adanya bentuk kekerasan lain yang hampir selalu terjadi di sekolah setiap hari. Bentuk kekerasan tersebut adalah “kekerasan simbolik”. Bentuk kekerasan ini hampir tidak pernah menjadi perhatian berbagai pihak, padahal jika diamati, bentuk kekerasan inilah yang memberikan dampak yang cukup besar, terutama dampak bagi masyarakat secara makro. Konsep ini dikemukakan oleh Bordieu, seorang sosiolog dari Perancis. Bourdieu menggunakan konsep ini untuk menjelaskan mekanisme yang digunakan kelompok elit atau kelompok kelas atas yang mendominasi struktur sosial masyarakat untuk “memaksakan” ideologi, budaya, kebiasaan, atau gaya hidupnya kepada kelompok kelas bawah yang didominasinya. Rangkaian budaya ini oleh Bourdieu disebut juga sebagai habitus. Akibatnya masyarakat kelas bawah, dipaksa untuk menerima, menjalani, mempraktikkan, dan mengakui bahwa habitus kelas atas merupakan habitus yang pantas bagi mereka (kelas bawah), sedangkan habitus kelas bawah merupakan habitus yang sudah selayaknya “dibuang jauh-jauh”. Kekerasan simbolik sebenarnya jauh lebih kuat daripada kekerasan fisik karena kekerasan simbolik melekat dalam setiap bentuk tindakan, struktur pengetahuan, struktur kesadaran individual, serta memaksakan kekuasaan pada tatanan sosial. Banyak mekanisme atau cara yang digunakan kelompok kelas atas untuk memaksakan habitusnya, salah satunya melalui lembaga pendidikan. Mekanisme sosialisasi habitus kelompok atas ini pun dapat dijumpai dalam berbagai bentuk. Kita dapat melihat bagaimana anak-anak di sekolah diwajibkan memakai sepatu, seragam, serta berbagai atribut atau cara berpakaian kelompok atas yang juga harus dilakukan kelompok kelas bawah. Dengan kata lain, siswa dari kelas bawah dipaksa untuk berbusana “layaknya” kelas atas, mereka dipaksa menerima habitus kelas atas. | 15 |
| 990 | # |
# |
$a 00000006871/JBPUBEK/2015 | 20 |
| 990 | # |
# |
$a 00000005884JBPUBEK/2015 | 21 |
| 990 | # |
# |
$a 00000005885/JBPUBEK/2015 | 22 |
Penjelasan Field MARC21:
- 001: Control Number
- 005: Date and Time of Latest Transaction
- 020: ISBN
- 100: Main Entry - Personal Name
- 245: Title Statement
- 250: Edition Statement
- 260: Publication Information
- 300: Physical Description
- 650: Subject
- 700: Added Entry - Personal Name
Aksi Cepat
Informasi Katalog
Pencarian Terkait
Export